Kematian Yang Sempurna

Kematian merupakan sesuatu yang ditakuti orang, sesuatu yang unik dan menyimpan misteri bagi kebanyakan manusia.

“Kaum agamawan menanggapinya dengan memanfaatkannya sebagai nasihat yang ampuh untuk memperbaiki kualitas kehidupan penganutnya dan menempatkannya sebagai masalah yang paling sentral di dalam ajarannya.
Tak ada agama yang tidak menjanjikan kematian yang sempurna.
Lalu, siapakah yang sebenarnya menyimpan misteri? kematian atau manusianya?” ::: Muhammad Zhuri

Keengganan dan ‘pemberontakan’ umat manusia atas kematian telah
melahirkan dua mazhab psikologi kematian.

Pertama, mazhab religius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setelah kematian itu betul-betul ada dan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi, orang religius menjadikan kehidupan akhirat sebagai target tertinggi.

Bagi penganut mazhab religius, mengejar-ngejar kenikmatan hidup
duniawi dan memperoleh self-glory hanya akan menghambat diraihnya
kesuksesan hidup di akhirat. Penguasa, misalnya, jangan hanya mabuk
kekuasaan dan uang, tapi kesejahteraan rakyatnya harus diperhatikan
agar kenyamanan hidup setelah kematian bukan sebatas impian.

Kedua, mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin adanya kehidupan setelah kematian. Kelompok itu dibedakan dua. Pertama, meskipun mereka tidak peduli kehidupan akhirat, kelompok ini berusaha mengukir namanya dalam lintasan sejarah. Seperti, demi popularitas, orang kaya rela membantu yang miskin. Kedua, mereka yang memang pemuja hidup hedonistis yang sama sekali tidak peduli dengan pengadilan dan penilaian sejarah.
::: Psikologi Kematian - Prof Dr Komaruddin Hidayat

Terlepas dari ke-2 penganut mazhab psikologi kematian tsb;

“Kearifan apa yang akan kita tanamkan kepada dunia jika kita tahu ini kesempatan terakhir kita? Jika kita harus mati besok, apa yang kita inginkan sebagai pusaka atau warisan kita?”. ::: Dr. Randy Pausch - The Last Lecture

Adakah “kematian” sebelum datangnya “kematian jasmaniah” itu sendiri?

Kematian jasmaniah tidak dianggap sebagai kematian, karena tidak menawarkan perubahan yang bermakna bagi kehidupan. Seorang penjahat tidak akan berubah menjadi baik dengan datangnya kematian jasmaniah.

Lantas, bilamanakah kematian yang sempurna?


“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Lagu Indonesia Raya Asli

Berikut lirik lagu Indonesia Raya yang asli;

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Semw’wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo’a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Kembali ke Reff:

Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
‘Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra’jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem’wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Kembali ke Reff:

Pidato Ir. Soekarno mengenai Supersemar

Naskah Supersemar yang asli masih menyisakan tanda tanya besar akan keberadaannya hingga kini.

Namun ada fakta mengenai konten surat tsb yang disampaikan Bung Karno pada pidato-nya tanggal 17 Agustus 1966 yang menyatakan dengan tegas bahwa Surat Perintah Sebelas Maret untuk Soeharto itu bukan berisi perintah pengalihan kekuasaan melainkan surat mandat untuk Soeharto agar mengamankan keadaan waktu itu.

Terlepas dari kontroversi atau ke-misterius-an-nya, tidak ada salahnya kita menyimak pidato Bung Karno mengenai Supersemar ini yang dapat diperoleh di situs youtube.com.

Manusia, Ilmu Pengetahuan, dan Kebebasan Memilih

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih (Kasih) lagi Maha Penyayang (Sayang).

Agak berat sebenarnya menulis catatan ini. Tanpa bermaksud menggurui, ini adalah sekedar catatan bagiku mengenai manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan. Ya, Beliau adalah Nabi Adam SA.

Bila ada kesalahan menafsirkan, semata-mata karena Ali pribadi.

30. Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Rabb berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:30)

Di sini aku mencatat bahwa;
a. Bahkan Malaikat-pun bertanya (Even Angels Ask – book by Jeffrey Lang). Banyak point yang disampaikan di buku ini, salah satunya jika malaikat-pun dapat bertanya pada Allah, selayaknya manusia-pun berhak/dapat melakukannya agar tentunya manusia dapat meng-imani dengan teguh akan keberadaan Tuhan-nya melalui akal/fikiran tersebut.
b. Malaikat telah meramalkan bahwa manusia akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah.

31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!, (QS. 2:31)

Untuk point ayat 31;
a. Allah mengajarkan Adam nama-nama.
b. Bukankah nama merupakan simbol? Sebuah teori dasar manusia menyebut, manusia adalah homo symbollicum alias mahluk yang gemar membuat dan memberi simbol. Bahkan jabatan kita sendiri sebenarnya adalah sebuah simbol, sebagai pembeda atau penanda karakter, status atau peran (rule) antara manusia/mahluk/benda yang satu dengan manusia/mahluk/benda lainnya.
c. Dapatkah kita membayangkan, menjelaskan suatu benda bila tak terwakili oleh nama/simbol? Misalkan, kata panci. ”Dapatkah kau ambilkan aku sebuah benda yang bentuknya bulat dan terbuat dari besi, memiliki pegangan di kanan dan kiri, yang biasa kita gunakan untuk memasak, dsb, dsb?” Oh tentu, akan panjang sekali kata-kata yang harus diucapkan, bila kita tidak mewakilinya dengan sebuah nama/simbol.
d. Dari nama/simbol inilah ter-reperesentasi-kan suatu deskripsi ataupun konsep. Pada kenyataannya belajar ilmu pengetahuan adalah belajar istilah-istilah (nama-nama).
e. Inilah kelebihan/berkah pertama bagi manusia, yaitu Ilmu Pengetahuan (knowledge).

32. Mereka (para malaikat) menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:32)

Lantas, berkah apalagi yang Allah berikan pada Adam/manusia selain Ilmu Pengetahuan?

35. Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga(taman/kebun) ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (QS. 2:35)

a. Di ayat ke-35 ini, Allah memberikan pilihan pada Adam; untuk tinggal dan menikmati isi surga/taman, dan pilihan untuk menjauhi suatu pohon.
b. Dengan adanya pilihan, artinya manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.
c. Pilihan merupakan kebebasan bagi manusia.

Ini dalah catatan bagiku bahwa manusia sejak awal telah diberikan kelebihan berupa;
1. Ilmu Pengetahuan, dan juga
2. Kebebasan memilih.

Kedua berkah tersebut merupakan bahan baku dasar dari yang namanya KREATIFITAS. Dengan kreatifitas tersebut manusia mampu menciptakan tekhnologi baru/modern. Dengan kreatifitas tersebut manusia dapat membangun gedung-gedung bertingkat. Dengan kreatifitas tersebut manusia dapat terbang ke bulan, dsb, dsb.

Selain diberikan akal fikiran untuk memahami ataupun menguasai ilmu pengetahuan dan diberikan kebebasan memilih, manusia pun diberikan hasrat. Namun, dengan hasrat itu pulalah, syaitan berhasil memperdaya Nabi Adam dan Hawa.

Lantas, apakah Allah murka terhadap keduanya (Adam dan Hawa)?

36. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (QS. 2:36)

Allah memerintahkan Adam untuk tinggal di bumi sampai waktu yang ditentukan.

37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:37)

Meski Adam telah berbuat kesalahan/dosa, Allah tidak murka, Ia memberikan taubat pada Adam, karena Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (sayang).

38. Kami berfirman: Turunlah kamu dari surga/taman itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:38)

Catatanku kali ini;

Allah SWT telah menganugerahi manusia berupa ilmu pengetahuan dan juga pilihan-pilihan. Dengan kelebihan tersebut senantiasa manusia dapat lebih meyakini keberadaan Allah SWT dan dapat menjadi wakil-Nya (khalifatulloh) di muka bumi sehingga dapat turut menyampaikan pesan kasih dan sayang (Ar-Rohman, Ar-Rohim) terhadap sesama manusia dan mengendalikan hasrat untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini.

wassalam
Ali Mansjur

Hatiku butuh disirami

Mungkin yah…, catatan aku di blog ini kebanyakan sifat-nya yang berupaya agar aku senantiasa “memberdayakan” otak. Kali ini aku ingin beralih ke “hati-ku”…Karena ternyata hatiku-pun butuh untuk selalu disirami :)
Kali ini aku hanya catat dua point saja dan ini aku kutip dari Pak Robert K Cooper PhD mengenai hati, yaitu;

1. “Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang terdalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati mampu mengetahui hal-hal mana yang tidak boleh, atau tidak dapat diketahui oleh pikiran kita. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas serta komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita untuk melakukan pembelajaran, menciptakan kerjasama, memimpin serta melayani.”

2. “Knowing that the secret to life is not in your IQ computer or paycheck…it’s in your heart.